Kereta Cepat – Hongkong China Mulai Beroperasi

Proyek kereta cepat kontroversial yang menghubungkan Hong Kong dengan China daratan untuk pertama kalinya beroperasi akhir pekan ini. Kereta berjuluk The Express Rail Link ini sempat menuai kecemasan sebagian warga Hong Kong. Mereka risau China akan memberlakukan sebagian aturan hukumnya dengan pengoperasian kereta yang bisa melaju hingga 200 kilometer per jam itu.

SEJUMLAH masyarakat yang ikut merasakan perjalanan perdana dari proyek kereta cepat ini memberikan pujian karena sejumlah kelebihan yang dirasakan. Satu dari kelebihan itu adalah waktu tempuh yang diperlukan untuk mencapai daerah paling Selatan China dari Hong Kong yang hanya mencapai dua puluh menit. Itu berarti kereta cepat baru ini memangkas hampir separuh waktu perjalanan yang ditawarkan oleh moda transportasi sebelumnya. Sudah menawarkan waktu tempuh yang lebih singkat, kereta ini juga menawarkan kenyamanan bagi para penumpangnya. “Saya lebih bergairah untuk menumpang kereta cepat ketimbang naik pesawat,” kata seorang penumpang berusia 71 tahun bernama Leung seperti dilansir Reuters, Minggu (23/9).

Tapi bukan berarti semua kelebihan yang diberikan The Express Rail Link ini bisa memuaskan semua orang. Pasalnya masih ada sejumlah pihak yang tetap mengkritisi proyek yang menghabiskan dana US$ 11 miliar tersebut. Kekhawatiran terbesar dari proyek ini adalah kehadiran petugas imigrasi China di wilayah Hong Kong. Belum pernah ada kebijakan seperti ini sebelumnya. Dengan kehadiran petugas China, artinya akan ada peraturan asal negeri Tembok Raksasa yang akan diterapkan di wilayah Hong Kong. Bayangan ini memunculkan ketakutan akan terjadinya pengikisan terhadap otonomi Hong Kong, seperti yang pernah dijanjikan China sejak 1997 lalu. Dalam upacara peresmian yang digelar akhir pekan lalu, legislator pro-demokrasi melakukan aksi boikot dan menggelar protes di luar stasiun, dengan menyuarakan kehadiran proyek kereta tersebut telah merusak sistem hukum Hong Kong.

Namun badan legislatif China telah menepis tudingan kalau kesepakatan ini bakal merongrong otonomi Hong Kong. Proyek ini justru dinilai bakal mempercepat proses migrasi antara China dan Hong Kong. Sementara pihak China juga mengincar pertumbuhan ekonomi yang bisa bergulir dengan adanya kereta cepat ini. Yakni lewat mempercepat laju ekonomi termasuk pada sektor pariwisata di sejumlah kota yang dilewati. Lebih jauh, proyek ini juga merupakan bagian dari upaya lebih luas yang dilakukan Beijing untuk memperkuat Delta Sungai Mutiara. Termasuk koneksi dengan sembilan kota yang dijuluki Wilayah Teluk Raya.

Pemerintah China ingin Wilayah Teluk Raya, yang merupakan rumah bagi sekitar 68 juta orang dengan gabungan PDB mencapai sebesar US$1,5 triliun bisa mempercepat integrasi ekonomi dengan mendorong pengangkutan orang, barang dan sektor lainnya ke seluruh kawasan di negeri tersebut. Sekedar pengingat, Hong Kong yang merupakan bekas koloni Inggris kembali ke pangkuan China pada 1997 silam. Proses ini dibalut oleh perjanjian yang menyebut kawasan tersebut akan menikmati otonomi khusus selama lima puluh tahun. Sebagai buah dari perjanjian tersebut, Hong Kong punya sistem hukumnya sendiri termasuk tentang hak asasi manusia. Dan banyak produk hukum yang berlaku di sebagian besar wilayah China tidak bisa diterapkan di Hong Kong.