Keputusan untuk Menyepi Dari Media Sosial

Banyak orang kini mulai menyadari ketergantungan terhadap media sosial mengganggu kehidupan nyata mereka. Terpaan informasi negatif, ditambah rasa kesal melihat berita-berita palsu di media sosial, membuat mereka memilih mengasingkan diri dari dunia maya. Gerakan “detoksifikasi digital” pun mulai tumbuh di kalangan pesohor dan profesional muda. Setahun yang lalu, pre- senter Sarah Sechan membuat pengumuman mengejutkan.

Melalui akun Instagram-nya, pembawa acara Sarah Sechan di stasiun televisi Net TV ini menyatakan undur diri dari media sosial. “Saya ingin lebih menikmati setiap momen dalam hidup saya, bukannya sibuk memikirkan pendapat orang lain…. Hidup di media sosial sangat melelahkan,” demikian sepenggal tulisan Sarah dalam unggahan terakhirnya di Instagram @sarahsechan pada Maret 2017.

Setahun berlalu, Sarah mengaku kini hidupnya jadi lebih berkualitas. “Kini saya bisa memanfaatkan waktu untuk kegiatan yang lebih berarti,” ujarnya pada Kamis lalu. Sekarang dia tak lagi merasa harus berfoto bersama temantemannya demi menunjukkan kebersamaan, atau memotret makanan sebelum menyantap hidangan di hadapannya.

baca juga : http://tech.dbagus.com/2018/08/14/mesin-genset-silent-dan-berbagai-kelebihannya/

Lebih dari itu, Sarah merasa kehidupannya sekarang lebih tenang dan nyaman. “Saya mendapatkan kembali privasi yang sempat hilang, dan momen yang saya lewatkan terasa lebih berharga.” Keinginan Sarah berhenti aktif di media sosial (Instagram dan Twitter) bermula ketika ia bosan melihat isi lini masanya yang melulu berisi swafoto, makanan dan minuman, atau barang-barang yang baru dibeli oleh orangorang yang ia ikuti di akunnya. “Belum lagi curhatan pribadi di captionnya, saya tidak mau jadi seperti itu.” Dia khawatir, jika suatu saat kehabisan ide untuk diunggah, ia akan mengikuti “tren” di lini masanya.

Setelah berpikir lebih dalam, Sarah juga merasa keberadaan media sosial menjadi pintu bagi orangorang yang tak ia kenal masuk ke kehidupannya lebih jauh. “Orang-orang akan merasa jadi bagian dari hidup kita, lalu membuat mereka merasa berhak berkomentar apa pun tentang saya, bahkan hal negatif sekalipun.” Sebetulnya Sarah tak benar-benar berhenti memanfaatkan jejaring sosial di dunia maya. Ia masih punya akun Facebook yang dikunci, hanya diisi orangorang yang ia kenal baik.

Isi akun Instagram-nya yang punya jumlah pengikut 158 ribu diganti dengan foto-foto Shoku, anjing miliknya. “Seekor anak anjing tentu lebih menarik dan menghibur ketimbang seorang perempuan berusia 44 tahun yang mengunggah foto makanannya, kan?” Sarah berseloroh. Sedangkan di Twitter, Sarah bersikap pasif. Padahal jumlah pengikutnya sudah mencapai 2,6 juta akun.

Akunnya di Twitter digunakan untuk sekadar mencari informasi karena, sebagai seorang presenter, ia merasa wajib mengikuti perkembangan informasi. Hal yang menarik, kata Sarah, sejak ia memilih “berpuasa” digital dan bersikap lebih pasif di media sosial, kualitas hubungan sosialnya jadi lebih meningkat. Contoh paling sederhana, ujarnya, saat memberikan ucapan selamat kepada seseorang, ia akan menelepon atau bertemu langsung. “Interaksi menjadi lebih akrab, sama seperti sebelum zaman media sosial.” Bukan hanya Sarah Sechan, beberapa pesohor Tanah Air juga pernah melakukan hal serupa.

Ada Eva Celia, aktor Dimas Aditya, dan Kevin Julio Chandra. Gerakan “berpuasa dari media sosial” bahkan diutarakan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Imbauan untuk mengurangi penggunaan media sosial ini muncul setelah merebaknya skandal kebocoran data Facebook pada April lalu. “Saya sangat menyarankan agar kita sekali-sekali berpuasa media sosial. Enggak ada ruginya kok.” Rudiantara juga meminta pengguna lebih berhati- hati mengunggah data di Internet. “Jangan semua disampaikan,” katanya, Mei lalu.

Selain faktor keamanan, Rudiantara mengatakan puasa media sosial juga bisa mengurangi munculnya hal-hal negatif menjadi viral. “Sifat interaksi media sosial yang tak langsung membuat orang kerap kebablasan, sehingga penggunaan kata-kata kasar dan tidak sopan semakin banyak.” Seharusnya, kata dia, pengguna bersikap seperti di dunia nyata saat menggunakan situs jejaring sosial. Pernyataan“berhenti” dari media sosial juga disampaikan penyanyi Eva Celia.

Ia mengumumkan melakukan detoks media sosial selama beberapa waktu pada akhir tahun lalu di Instagram-nya. Alasan Eva waktu itu adalah munculnya perasaan terlalu bergantung pada teknologi digital. “Media sosial menjadi distraksi besar terhadap hubungan saya dengan orang lain, bahkan diri saya sendiri.” Bahkan Eva mengaku pernah sampai melupakan prioritasnya akibat keasyikan di dunia maya. Aktor Dimas Aditya bahkan sampai dijuluki “manusia purba” lantaran ia terang-terangan menyatakan anti-media sosial. Ia sudah tidak pernah membuka Path, Twitter, Facebook, dan Instagram lima tahun terakhir.

Aktor dalam film Pengabdi Setan dan Sang Kyai itu juga tak mengaktifkan berbagai messenger, seperti Line, WhatsApp, BBM, dan Kakaotalk, di gawainya. Alumnus Jurusan Public Relations Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia ini membatasi pergaulannya di jejaring sosial karena sempat mendapat pengalaman buruk. Saat namanya mulai dikenal orang, ia mengaku sempat diteror di Twitter. “Gue merasa harus ada privasi yang gue jaga,” kata Dimas, yang pernah menjadi gadget freak dan sering lupa makan atau melakukan kegiatan lain hanya karena terlalu sering memperhatikan aktivitas teman-temannya di dunia maya.

Dimas memang memiliki iPhone dan tetap membeli kuota Internet untuk kebutuhannya. Namun ia lebih sering menggunakannya untuk mengakses berita atau isu yang sedang berkembang dibanding memperhatikan teman-temannya yang sedang mengeluh atau memamerkan kegiatannya di media sosial.

Puasa media sosial juga bisa disebabkan keterpaksaan. Aktor Kevin Julio Chandra pada Juni lalu terpaksa rehat bermain media sosial akibat harus menjalani operasi lasik pada matanya. Sebelum dan setelah menjalani prosedur untuk memperbaiki silindris dan minus pada kedua matanya itu, Kevin dilarang membuka-buka ponselnya. “Padahal dulu kebiasaan sebelum tidur,” ujarnya seperti dikutip dari Antara. Selebritas dunia juga pernah menjadi berita akibat keputusan hiatus dari dunia maya.

Pada 2016, model Kendall Jenner melakukan detoks dunia maya dengan cara keluar dan tak mengaktifkan akun Twitter serta Instagramnya. Dalam penjelasannya di program talk show The Ellen DeGeneres Show, dia mengaku keinginan itu muncul begitu saja. “Membuka ponsel adalah hal yang pertama saya lakukan di pagi hari, dan terakhir sebelum tidur di malam hari. Saya merasa lelah, dan ingin rehat sejenak.”