Penumpang Bus Premium Bertambah

Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Bambang Prihartono, mengklaim adanya peningkatan jumlah penumpang bus Transjabodetabek Premium sejak uji coba perluasan aturan pelat nomor ganjil-genap. Menurut Bambang, peningkatan jumlah penumpang Transjabodetabek Premium mengindikasikan perpindahan pengguna moda transportasi dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.

“Pemerintah harus siap dengan angkutan umum yang dibutuhkan masyarakat,” ujar dia di Jakarta, kemarin. Bambang menerangkan, dalam dua pekan uji coba aturan ganjil-genap, peningkatan jumlah penumpang bus Transjabodetabek Premium, yakni Royal Trans, mencapai 12,47 persen. Berdasarkan catatan BPTJ, sebelum perluasan ganjil-genap ke jalan-jalan arteri pada 25-29 Juni lalu, jumlah penumpang Royal Trans hanya 956 orang.

Sedangkan pada pekan kedua uji coba ganjil-genap, 9-11 Juli, jumlah penumpang bus premium yang dikelola PT Transportasi Jakarta itu naik menjadi 1.082 orang. Jumlah penumpang bus premium yang dikelola Perusahaan Umum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD) juga meningkat. Direktur Utama Perum PPD, Pande Putu Yasa, mengatakan tingkat keterisian penumpang bus PPD setelah diberlakukannya perluasan aturan ganjil-genap naik menjadi hampir 60 persen, dari 35 persen pada pekan-pekan sebelumnya.

Karena adanya peningkatan jumlah penumpang tersebut, PPD berencana menambah jumlah bus kelas premiumnya. “Karena animo masyarakat untuk naik bus meningkat,” ujar dia. Pemerintah memperluas kebijakan pelat nomor ganjil-genap ke jalan-jalan arteri untuk mendukung pelaksanaan Asian Games 2018. Pesta olahraga bangsa se-Asia itu akan berlangsung di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus- 2 September mendatang.

Menurut Bambang, dengan perluasan aturan ganjil-genap, jumlah mobil yang berlalu-lalang di jalanan Ibu Kota berkurang. Hal itu mengakibatkan turunnya suhu udara. Dampaknya, kata dia, orang akan lebih nyaman berjalan menuju halte dan pindah ke angkutan umum. “Kami berusaha mendekatkan masyarakat ke angkutan umum,” tuturnya.

Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta, Iskandar Abubakar, ragu akan klaim adanya perpindahan besarbesaran pemilik kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Dia memperkirakan pemilik mobil pribadi yang berpindah ke bus umum hanya segelintir orang. Menurut Iskandar, mayoritas pemilik kendaraan pribadi di Jakarta dan sekitarnya masih sulit untuk beralih ke kendaraan umum.

Indikasinya terlihat dari berpindahnya kepadatan arus lalu lintas dari jalur aturan ganjil-genap ke jalan alternatif. “Mereka belum rela melepaskan mobilnya dan akhirnya mencari jalan alternatif,” tuturnya.