Ternak Bebek Semakin Diminati Warga Lampung

Budidaya bebek petelur dan pedaging makin “seksi”. Bahkan peternak ayam petelur (layer) pun ganti isi kandang. Alasannya, harga telur dan bebek pedaging lebih stabil dan pemeliharaannya lebih mudah dan murah sehingga bisa meningkatkan pendapatan. Seperti yang dilakoni Sutrisno di Desa Gading Rejo Utara, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung.

Cak Tris, pria yang akrab disapa ini hingga tahun 2012 masih memelihara layer. Namun dengan alasan, fluktuasi harga jual telur yang tajam dan mulai masuknya perusahaan besar di dalam usaha peternakan layer, Cak Tris merasa tidak kuat bersaing karena memang modalnya terbatas. Ia banting setir beternak bebek petelur dengan populasi 800 ekor indukan yang menghasilkan 400 butir telur per hari.

ternak bebek

Sedikit cerita, Cak Tris mengungkapkan pada awalnya baru sebanyak 300-an ekor bebek karena modalnya terbatas. Ia membesarkan bebek unggul jenis Cihateup Super dari Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat. “Sengaja memilih bebek unggul ini karena posturnya lebih bagus, produksi telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap serangan penyakit,” ujarnya.

Pemeliharaan Lebih Mudah
Selain harga jual telur yang relatif stabil, penyebab lainnya Cak Tris pindah haluan, memelihara bebek lebih mudah dan tidak repot. Pasalnya, pada saat memelihara ayam di era 90-an hingga 2000-an, ayamnya sering terserang penyakit. Bahkan pernah ayam petelur miliknya diserang penyakit gumboro, dari 20.000 ekor yang terserang hanya bisa diselamatkan 5.000 ekor saja. Lalu biaya pemeliharaan bebek juga lebih murah karena hanya menggunakan 50 persen pakan pabrikan. Sisanya diracik sendiri dari campuran dedak, jagung dan konsentrat dengan komposisi dedak 50 persen, jagung 20 persen dan konsentrat 30 persen sehingga biaya pakan lebih murah. Jika meracik sendiri biaya pakan hanya Rp 4.000 per kg, lebih rendah dibanding harga pakan pabrikan yang kini sudah mencapai Rp 5.000 per kg. Di samping harga pakan pabrikan lebih mahal, bebek juga tidak cocok diberi pakan pabrikan 100 persen karena bebek sensitif terhadap perubahan pola makan. Berdasarkan pengalaman Cak Tris, pada musim hujan komposisi jagungnya dinaikkan 7 persen karena jagung membuat tubuh bebek panas.

Sebaliknya pada musim kemarau pemakaian jagung harus dikurangi agar bebek tidak kepanasan sehingga bulunya rontok yang berakibat kepada menurunnya produksi telur. “Jadi komposisi pakan bebek harus dibedakan antara musim hujan dengan musim kemarau,” akunya. Soal penyakit bebek, menurut Cak Tris, tidak jauh berbeda dengan. Di antaranya flu burung (AI), ND dan gumboro. Penyakit yang terakhir ini hampir sama ganasnya dengan AI karena sama-sama disebabkan oleh virus. Hanya umumnya bagi bebek yang full di kandang dan pemeliharaannya sistem kering, bebek tidak mandi lebih jarang terserang penyakit. “Yang juga harus dijaga agar unggas liar dari luar peternakan tidak sampai masuk ke dalam kandang bebek agar tidak tertular penyakit,” cetusnya.

Skala Ekonomi
Penataan kandang hamparan Mengenai skala ekonomi beternak bebek petelur, menurut Tris, minimal 1.000 ekor dengan produksi telur per hari selama dua tahun berkisar antara 500 hingga 600 ekor. Jika telur tersebut dijual Rp 170 per butir maka pendapatan kotor perhari sekitar Rp 85 ribu hingga Rp 102.000 per hari. milik Sutrisno “Sebetulnya ada varietas bebek lain seperti Mojosari yang masa produksinya lebih lama hingga 4 tahun. Hanya karena postur tubuhnya lebih kecil maka telurnya juga kecilkecil sehingga kurang disukai konsumen. Selain pendapatan dari telur, peternak juga menerima pendapatan dari penjualan bebek apkir yang setelah dipelihara selama 2 tahun bisa dijual Rp 50 ribu per ekor. Lalu kotoran bebek juga laku dijual untuk pupuk sayuran dan cabai dengan harga jual Rp 600 per karung. Di samping memelihara bebek petelur, Tris juga mengkombinasikannya dengan bebek pedaging. Alasannya, permintaan bebek pedaging terus meningkat seiring maraknya warung-warung tenda yang menyajikan menu berbahan baku bebek, beberapa tahun belakangan ini. Dari DOD (anak bebek umur sehari) seharga Rp7.500 per ekor, setelah dipelihara selama dua bulan beratnya naik menjadi 1,2 hingga 1,5 kg dan dijual dengan harga Rp 40 ribu per ekor. Untuk mengembangkan peternakan be­ bek di daerahnya, Tris membentuk kelompok peternak bebek dengan anggota 12 peternak dan populasi bebek sekitar 4 ribuan ekor. Selain beternak, kelompok ini juga sudah membentuk divisi pemasaran telur, pemasaran bebek potong, dan penetasan sampai penjualan DOC dan bebek dara.

Permintaan Pasar Terus Meningkat
Menurut Anas, pedagang bebek pedaging yang ditemui di tempat Tris, permintaan bebek lebih banyak yang sudah dipotong ketimbang bebek hidup. Umumnya perminta­ an bebek potong datang dari pemilik rumah makan/restoran dan warung tenda. Rata­rata Anas memotong seratusan ekor bebek per hari. Setelah dipotong dan dibersih­ kan pada pagi harinya, bebek dimasukan dalam freezer dan siangnya baru diantar ke rumah makan pelanggan di Kota Bandar Lampung. Ia membeli bebek hidup dari peternak dengan harga 40 ribu per ekor. “Rata­rata bebek yang dibesarkan selama dua bulan tersebut berkisar antara 1,2 hingga 1,5 kg per ekor,” ujar Anas. Namun selama bulan puasa, Anas mengaku, permintaan bebek agar berkurang. Dan biasanya kembali melonjak setelah lebaran, terutama setiap akhir pekan. “Sebetulnya sudah ada permintaan dari pengusaha Jakarta untuk bebek potong. Tapi kami belum bisa memenuhi karena stok masih terbatas dan hanya mampu memasok kebutuhan Bandar Lampung. Padahal harga yang ditawarkan cukup tinggi, tapi belum ada bebeknya,” tambah Anas yang sudah mengge­ luti jual beli bebek selama dua tahun terakhir. Sementara, jika serapan pasar agak menurun, Tris mengolah telur produksinya menjadi telur asin. Namun belakangan, ter­ utama menjelang bulan puasa permintaan telur membaik, semua telur yang dihasilkan Tris dijual ke pasar.