Bibit Unggas Lokal Unggulan Peluang Bisnis Yang Menjanjikan

Peluang bisnis pembibitan unggas lokal cukup besar, apalagi saat ini sistem produksi yang baru mulai terstruktur dengan baik. Seperti, pengem­ bangan sistem produksi, pengembangan bibit unggul, pengembangan sistem pembibitan, processing dan pemasarannya. Seiring dengan berkembangnya budidaya dan pasar unggas lokal di dalam negeri, ternyata sebelum 2010 ketersediaan bibit untuk unggas lokal sangat kurang.

Bibit Unggas Lokal Unggulan

Bahkan saat ini pun, ketersediaan bibit unggas lokal menjadi segmentasi pasar yang mempunyai prospek cerah. Diungkapkan Agustin Polana, dokter hewan di PT Putra Perkasa Genetika (PPG) perusahaan peternakan unggas lokal yang berlokasi di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat bahwa sebelum 2010 untuk mendapatkan bibit unggas lokal dalam jumlah cukup banyak dan unggul sangat sulit.

“Akhirnya saya bersama tim PPG bergerak dari Kabupaten ke Kabupaten untuk mencari bibit unggas lokal unggul dengan dibantu oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Dinas Peternakan yang dikunjungi. Selain itu, bagaimana menyiapkan pembibitan unggas lokal agar menjadi salah satu solusi dalam mengentaskan kemiskinan,” katanya saat memberikan seminar unggas lokal kepada Ikatan Mahasiswa Peternakan Indonesia (Ismapeti) di Institut Pertanian Bogor/IPB (23/4). Menjadi salah satu solusi mengentaskan kemiskinan, ia beralasan unggas lokal dapat menyerap pakan lokal.

Sehingga, mengoptimalkan potensi pakan yang cukup melimpah dan menciptakan lapangan pekerjaan di daerah tersebut. Selain itu, unggas lokal merupakan ternak tipe dwiguna yang menghasilkan telur dan daging dengan cukup baik.“Sementara untuk permintaan produk unggas lokal terus meningkat (telur dan daging), namun disatu sisi suplainya belum memadai,” jelasnya.

Maka itu, menurut wanita yang juga pe­ ngu rus Gapali (Gabungan Pembibit Ayam Lokal Indonesia) peluang bisnis pembibitan unggas lokal cukup besar, apalagi saat ini sistem produksi yang baru mulai terstruktur dengan baik. Seperti pengembangan sistem produksi, pengembangan bibit unggul, pengembangan sistem pembibitan, processing dan pemasaran­ nya cukup besar. “Peluang bisnis di unggas lokal yang pasti ada pembibitan, kedua pakan dan telur tetas. Khusus pembibitan misalnya menghasilkan anak ayam (DOC) dan anak bebek (DOD),” ungkapnya.

Ditambahkan Ketua Himpun an Peternak Unggas Lokal Indonsia (Himpuli) Ade M Zulkarnain, untuk peluang usaha peternakan unggas lokal secara umum disebabkan beberapa faktor. Antara lain, meningkatnya kelas menengah ke atas, kesadaran pola konsumsi yang sehat, target peningkatan konsumsi perkapita daging ayam produk ternak yang bisa bersaing di MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dan sudah mulai terbuka pasar ekspor. Selain itu, komoditas ternak alternatif dalam menghadapi kesepakatan WTO (Organisasi Perdagangan Dunia) serta merupakan komoditas ternak yang paling menguntungkan.

Dukungan Pemerintah
Kepala Balai Penelitian dan Pengembang­ an Pertanian (Balitbangtan) Suharsono menga­ takan, saat ini produksi daging ayam nasional mencapai 3.062.000 ton. Dimana sebagian besar bersumber dari ayam ras broiler sebe­ sar 1.722.000 ton (56,24%), dan sebagian kecil dari ayam lokal sebanyak 314.000 ton (10,25%). “Maka proporsi daging ayam lokal mencapai 15,42 % terhadap total produksi unggas nasional,” cetusnya. Menurut Surharsono lemahnya daya saing ayam ras ditingkat global disebabkan ketergantungan impor bibit Grand Parent Stock (GPS), Parent Stock (PS) dan perma­ salahan penyediaan bahan baku pakan yang merupakan 60­70 persen dari biaya produksi.

Oleh itu, unggas lokal berpeluang cukup besar di pasar perunggasan meskipun ketersediaan terbatas. “Ayam dan itik lokal yang didukung dengan sumberdaya genetik dan ketersediaan pakan di Indonesia, menjadi tantangan seka­ ligus peluang dalam membangun agribisnis peternakan yang berbasis inovasi,” sebutnya. Ia memaparkan strategi pemuliaan ayam lokal untuk memperoleh bibit unggul salah satunya dengan cara melakukan seleksi. Sebagai suatu tindakan menentukan ternak unggul sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Misalnya, ayam KUB (Kampung Unggul Balitnak) merupakan bibit unggul penghasil telur, ayam Sensi­1 Agrinak sebagai ayam lokal pedaging unggul dan itik Master merupakan bibit niaga petelur unggul dan itik PMP sebagai bibit itik pedaging unggul.

Sambungnya, saat ini Balitbangtan menghasilkan 15 inovasi rumpun ayam ung­ gul; ayam Kate, Gaok, Pelung, Merawang, Sentul, Kalosi, Kedu Putih, Cemini, Kampung, Nunukan, Kapas, Arab Silver, Wareng dan Arab Golden. Sementara, ayam lokal yang ada di Indonesia berjumlah lebih dari 30 rumpun dengan karakteristik spesifik yang berbeda­beda; bentuk kepala, warna bulu, paruh, jengger, pial, warna kaki dan suara. Ade berpendapat, ayam Indonesia dibagi dua yaitu ayam asli dan pendatang. Ayam asli; ayam kedu putih, hitam dan blorok (Jawa Tengah), ayam cemani, ayam sentul warna abu­ abu, putih dan emas dan ayam pelung (Jawa Barat) yang memiliki ciri khas suaranya, ayam Gaok (Madura) hampir mirip dengan ayam pelung, ayam jantur (Subang) dan ayam kampung.

Sedangkan ayam pendatang; ayam arab (Mesir). Sedikit cerita terkait sumberdaya genetik ayam Indonesia, Ia menuturkan Indonesia salah satu dari tiga wilayah yang dinyatakan pusat domestikasi ayam dunia selain China dan kawasan lembah Indus (International Livestock Research Institute­ILRI). Lalu, sedikitnya ada 26 jenis ayam asli Indonesia, baik ayam untuk produksi maupun ayam untuk hobi (klangenan). Kondisi ayam asli Indonesia saat ini 80% hampir punah dan beberapa sudah punah. Namun, beberapa ayam asli Indonesia merupakan cikal bakal ayam ras yang dilakukan rekayasa genetika oleh perusahaan raksasa/Multi National Cor­ poration (MNC) peternakan unggas.