Investasi Energi Global Melorot

Investasi Energi Global Melorot

JAKARTA — Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) menyebut nilai investasi di sektor energi sepanjang 2017 mencapai US$ 1,8 triliun (Rp 25.879,1 triliun). Penurunan investasi sebesar 2 persen dari tahun sebelumnya itu memicu kekhawatiran akan kemampuan dunia untuk mengatasi dampak perubahan iklim akibat penggunaan energi konvensional. “Meski peran pemerintah meningkat, investasi yang ada tak bisa memenuhi keamanan energi,” kata Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, dalam laporan World Energy Investment 2018, kemarin. Menurut Birol, penurunan investasi juga menunjukkan ketidakmampuan dunia untuk memacu percepatan pengembangan teknologi yang dibutuhkan untuk transisi ke energi bersih.

Dia merujuk pada penurunan biaya peralatan energi bersih, seperti panel surya dan turbin angin, serta rendahnya pertumbuhan kapasitas listrik. Penyebab rendahnya investasi energi terbarukan, kata Birol, adalah perubahan kebijakan pemerintah. “Investor ragu karena terjadi ketidakpastian politik,” ujar dia. Berdasarkan data IEA, penurunan investasi yang cukup signifikan terjadi pada sektor kelistrikan, yakni 5 persen atau menjadi US$ 750 miliar sepanjang 2017. Pengembangan pembangkit listrik energi terbarukan turun 7 persen menjadi US$ 298 miliar. Sedangkan investasi untuk listrik energi fosil merosot 9 persen menjadi US$ 132 miliar. Bahkan investasi untuk listrik berbasis nuklir melorot hingga 44 persen menjadi US$ 17 miliar. IEA menyebut pemerintah memikul beban investasi energi yang lebih besar ketimbang swasta. Hal itu terjadi terutama pada negara-negara maju dengan tingkat konsumsi energi tinggi. Perusahaan milik negara menyumbang 40 persen dari total investasi energi. Selain itu, IEA menyebut 95 persen belanja di sektor kelistrikan berkaitan erat dengan regulasi atau sangat bergantung pada subsidi. Di sektor minyak dan gas, IEA menyebut terjadi kenaikan suntikan modal, seiring dengan pemulihan harga. Belanja modal di sektor ini naik 4 persen menjadi US$ 450 miliar pada tahun lalu dan IEA menargetkan kenaikan hingga 5 persen pada tahun ini menjadi US$ 472 miliar. Tapi IEA menilai tren investasi di sektor migas kurang signifikan hasilnya lantaran pemodal lebih banyak mengincar sumur yang mampu berproduksi dalam waktu singkat. Aliran dana untuk proyek besar yang hasilnya dapat dinikmati dalam jangka panjang hanya sepertiga dari total investasi di sektor migas. Untuk energi berbasis batu bara, lembaga yang bermarkas di Paris, Prancis, itu memberikan proyeksi yang kurang baik. Di tengah tren kenaikan harga dua kali lipat untuk batu bara pembangkit listrik, investasi pertambangan menurun 13 persen menjadi US$ 80 miliar. Berdasarkan data IEA, investasi pembangkit listrik tenaga batu bara pada 2017 juga turun dua pertiga dibanding realisasi pada 2010. “Regulasi untuk mengatasi polusi udara menghambat investasi di sektor batu bara,” demikian pernyataan IEA